“Saya Membuat Mereka Menangis” (Eko, SD N 1 Kaligayam, Wedi)

Posted Leave a commentPosted in Cerita Relawan

Setiap Hari Inspirasi pasti memberikan kesan tersendiri tidak hanya untuk panitia lokalnya, namun juga inspirator dan dokumentatornya. Begitu juga di Kelas Insprasi Klaten 4 di tahun 2019, Hari Inspirasi (20/07/2019) yang diselenggarakan di 4 kecamatan (Wedi, Gantiwarno, Jogonalan, Prambanan) memberikan cerita haru tersendiri, khususnya oleh Damiriya Eko Kusnandar atau yang biasa dikenal dengan nama mas Eko yang merupakan pelatih taekwondo dan juga inspirator di SD N 1 Kaligayam, Wedi.

Lewat cerita mas Eko yang disampaikan ke salah satu panlok (panitia lokal) KIK #4, mas Eko mengemukakan jika di HI kemarin, ia membuat tidak hanya anak-anak SD di Kaligayam 1 menangis, namun juga beberapa inspirator dari kelompok lain juga menangis mendengar ceritanya. Mas Eko mendapat pesan singkat lewat WA dari salah satu siswa di Kaligayam 1. “Kak, di save ya saya Safira kelas 6. Maaf yang nangis tadi.” Ya! Safira adalah satu diantara sekian orang yang dibuat menangis oleh Mas Eko.

Eits, tapi tenang, mas Eko baik kok dan para siswa ataupun relawan menangis karena pesan penting dari pelatih taekwondo ini. Beliau mengatakan jika dari KI 2, beliau sudah menentukan kelas sasaran untuk membagikan pesan penting.

“KI cuman sebentar tapi paling tidak sebelum aku pergi, aku memberi modal buat mencapai target cita-cita terdekat meraka. Kelas 5 untuk prepare. Kelas 6 untuk modal mental untuk siap UN. Jadi, mereka aku tanya tentang ibadah ada yang bolong tidak. Ibadah salah satu modal mental ketenangan. Berikutnya doa terkuat didunia adalah orang tua mereka aku ajak mereka flash back tentang kelakuan mereka tentang salah-salah mereka dan setelah ini aku minta mereka meminta maaf ke ortu mereka plus minta doa buat kelancaran UN. Begitu juga dengan guru yang setia memulai mengajarkan mereka tentang baca dan tulis flash back ke kelas 1 sampai saat ini. Permintaanku sama seperti terhadap orang tua mereka. Semakin banyak doa semakin lengkap senjatamu mempersiapkan UN selain kerajinan kedisiplinan dalam belajar.”

Damiriya Eko Kusnandar

Karena pesan Mas Eko tersebutlah, Safira ikut menangis. Dalam pesan singkatnya, setelah mendapatkan semangat dari Mas Eko, Safira semakin membulatkan tekad untuk bisa meraih cita-citanya. Walaupun begitu, ada sebersit ragu kala Safira mengemukakan, “Tapi saya telat atau enggak ya kak bisanya yang meminta maaf sekarang?”

“Tidak ada kata terlambat untuk mengemukakan kebaikan.” Yap, itulah yang dikatakan mas Eko agar Safira kembali yakin dan tidak meragu.

Setelah HI terlaksana, mas Eko berkumpul dengan relawan yang lain di Empon-Empon. Saling bercerita, berbagi cengkrama serta bersantai ria dan mas Eko sukses membuat inspirator mbrebes mili mendengar ceritanya.

“Datang senang pulang senang.

Setiap langkah semoga bernilai ibadah walau ada kekacauan tapi dibikin enjoy.

Liburan/waktu jeda yang berfaedah dan bermanfaat”


Damiriya Eko Kusnandar

Ya, dalam waktu yang sedikit, sebisa mungkin dapat memberikan manfaat untuk orang lain. Banyak cara untuk berbagi kebaikan dan salah satunya lewat Kelas Inspirasi agar adik-adik bisa semakin yakin dan berani bermimpi untuk masa depannya sendiri agar lebih baik dari hari ini.

Itulah sebersit cerita dari Mas Eko dari SD N 1 Kaligayam, Wedi di Kelas Inspirasi Klaten 4. Ada banyak cerita lain yang berbeda dan tentunya berkesan untuk masing-masing relawan yang terjun langsung, saling berbagi, belajar dan menginsprasi tidak hanya untuk orang lain namun juga untuk diri sendiri.

Siswa SD N 1 Kaligayam berdoa bersama

Sumber cerita: mas Eko (SD N 1 Kaligayam, Wedi, Klaten)

Para Relawan dan Siswa SD N 3 Majegan, Tulung, Klaten

Bicara Tentang Relawan

Posted Leave a commentPosted in Cerita Relawan

Sebelum memulai cerita, saya ingin sedikit memberi kisi-kisi pandangan saya mengenai seorang Relawan. Tak dibayar tapi mereka sangat bernilai. Kalimat tersebut dilontarkan oleh Pak Anies Baswedan, salah satu tokoh besar yang menginisiasi beberapa program untuk kemajuan penerus generasi pendidikan bangsa ini. Bagi saya relawan pun dibayar. Mereka dibayar dengan kebahagiaan. Kebahagiaan saat membuat orang lain bahagia dan alasannya adalah kita. Mereka dibayar dengan kepuasan. Puas atas usaha yang sudah semaksimal mungkin dilakukan entah bagaimana hasilnya.

Bicara tentang relawan. Seperti sebuah pencarian jati diri, dan tidak semua orang bisa mencarinya sendiri. Butuh tangan-tangan ikhlas, kaki-kaki ringan yang tidak hanya berjumlah duapuluh. Mereka harus bisa mengangkat pun kuat untuk menopang. Masih berbicara mengenai relawan. Satu hal menarik diantaranya, mereka yang kusebut relawan terlihat sama seperti manusia pada umumnya. Bukankah itu menarik? Tidak, kurasa itu aneh.

Saya pikir akan ada pembeda antara mereka yang menjalani hidup lurus-lurus saja dengan mereka yang lebih senang mencari jalanan berbelok saat ingin menuju tempat tujuan. Tapi nyatanya semua terlihat sama. Sama-sama sampai ke tempat yang dituju dengan kata “selamat”. Apa kamu satu pemahaman dengan kalimat-kalimat saya itu? Saya harap tidak. Pendek sekali jika yang terpikir hanya perihal setipis itu. Tidak semua hal didunia ini bisa kita lihat hanya dengan menggunakan kedua mata hitam putih ini. Coba gunakan indra lain yang kita punya. Sentuh keikhlasan yang mereka berikan. Rasakan kesabaran yang mereka pancarkan.

Namanya Relawan. Datang jauh dari kota Borneo Kalimantan. Kendaraan yang beliau pakai untuk terbang, pas sesuai yang sudah dijadwalkan. Sampai di tempat tujuan hanya ada segelintir orang yang baru datang. Hari memang masih pagi, tapi baginya sudah sangat siang. Pengusaha yang ketat akan komitmen waktu.

Tina Martiawati, Pimpinan Perusahaan
Tina Martiawati, Pimpinan Perusahaan

Penampilannya begitu anggun. Tangan ramahnya mengisyarakatkan kebahagiaan. Kedewasaannya membuat kami teramat nyaman. Satu dan dua kata hangat yang beliau berikan tidak pernah kami lewatkan. Bunda, panggilan kami darinya. Bersama suami tercinta beliau keluar dari zona nyaman di Kabupaten Bontang Kalimantan Timur. Romantis sekali bukan. Kami anak-anak muda yang masih sendiri disuguhkan dengan pemandangan seindah itu. Meski seorang cucu sudah ada, sama sekali tidak melunturkan kasih mereka. Mungkin ada, tapi kami yakin banyak kebahagiaan yang mereka miliki. Sehat-sehat terus Bunda dan Bapak.

amaretha Wahyu Saputra, Vendor Management SPV
amaretha Wahyu Saputra, Vendor Management SPV

Namanya Relawan. Kumis tipis dan brewoknya yang sudah tak asing lagi mengawali sambutan ringan saya. Keseharian bertemu orang-orang baru disalah satu kantor logistik Jakarta membuat candaannya begitu menyenangkan. Pundak tingginya yang tidak pernah enggan untuk menjadi salah satu penopang saat kami butuhkan, kapanpun dan kemana pun itu. Berbekal truck kecil dan boneka tangan yang baru saja ia siapkan, berhasil menyita perhatian anak-anak di kelas. Tepuk salut dan hebat. Tepuk motor dan mobil pun disikat habis. Berniat ingin mengakhiri masa lajang di tahun ini. Semoga dimudahkan segala pencariannya. Doa kami menyertai.

Dicky Widi, Engineer
Dicky Widi, Engineer

Namanya Relawan. Berangkat sore hari pulang pun masih sore. Berasa hanya mampir saja. Meski singgahnya singkat, tidak meruntuhkan niatnya untuk tetap berangkat. Bapak satu anak yang juga aktif berorganisasi serupa di kota Mojokerto ini begitu humble. Baru sekali bertemu berasa sudah mengenalnya lama. Celotehan ini dan itu sama sekali tidak membosankan. Obrolan sana dan sini yang amat menenangkan. Pantas saja banyak anak yang menyukainya. Rengekan beberapa anak dikelas selalu beliau turuti. Mungkin itu yang dinamakan naluri. Rompi dinas warna hijau dan topi kebanggan khas seorang Engineer itu, semoga dipertemukan lagi.

khairuna hamida, ahli gizi
khairuna hamida, ahli gizi

Namanya Relawan. Dewasa dan Menawan. Teman bermalam ini seperti seorang kakak ipar. Memberi yang tidak diminta. Membantu yang tidak diperlu. Seorang Ahli Gizi pada salah satu Rumah Sakit di Solo ini begitu tenang. Caranya menghadapi orang dewasa juga dengan anak-anak bisa mencuri konsentrasi. Perbincangan tengah malam yang selalu menghasilkan. Semoga segera dipertemukan dengan lelaki idaman yang mampu menjadi imam.

Claudia Syifa, penyiar radio
Claudia Syifa, penyiar radio

Namanya Relawan. Sholihah dan begitu berkawan. Hari-harinya dihabiskan dibalik layar salah satu stasiun radio di kota bersinar. Senyum manis yang hampir tidak pernah terlihat. Kini ia berikan untuk anak-anak disini. Saya yakin, sampai saat ini jarang atau bahkan belum pernah sedikitpun ia mengeluhkan hidup. Sebab yang saya lihat hanya kebahagiaan. Dan semoga saja memang begitu. Terus menebar senyuman. Meski hanya dibelakang dan tidak diketahui orang, setidaknya itu yang selalu dirindukan.

Ardhi Aprianto, Dokumenter
Ardhi Aprianto, Dokumenter

Namanya Relawan. Dekat dengan gaya bicara yang sangat mengikat. Bahasa jawa yang kental ia utarakan sukses menyita perhatian. Aneh memang, tapi kami menyukai caranya meringankan arah obrolan yang mungkin terasa berat. Tuntutan kerja yang mengharuskan untuk berbicara santai tapi hati-hati membuat orang-orang baru cepat beradaptasi. Beberapa pembicaraan kami semua yang kadang masih membingungkan bisa ia sentil dengan kalimat-kalimat jailnya. Satu hal pembelajaran yang saya ambil darinya. Ketika kita bekerja sesuai dengan passion pasti akan lebih menyenangkan. Bukan masalah seberapa banyak hasil yang diperoleh, tapi seberapa banyak kebahagiaan yang bisa kita rasakan.

Istiqaroh Ambar Oktavitriani, dokumenter
Istiqaroh Ambar Oktavitriani, dokumenter

Namanya Relawan. Senyum tipis nan manis. Aku jatuh hati dengan sebuah dedikasi. Jangankan harta, tenaga dan waktu pun ia beri. Totalitasnya dalam melakukan sebuah tanggungjawab pasti membuat orang lain ingin terus memberikan sebuah kepercayaan. Seorang lulusan IT yang juga hobi motret ini menyelesaikan banyak pekerjaan. Tangan dingin yang rela mengurangi waktu istirahatnya membuahkan banyak hasil yang tidak diragukan. Semoga dunia kerja terus memberikan kepercayaan untuknya.

Dwi Prasetiyo, dokumenter
Dwi Prasetiyo, dokumenter

Namanya Relawan. Rela menunggu meski belum ada kepastian. Rela menunggu meski hujan terus saja berdatangan. Seorang Guru kelas V yang saat ini menekuni dunia fotografi. Datang dari kota seberang bernama Wonogiri. Bahasa jawa yang sudah halus membuat obrolan kami dengan orang dewasa lebih ada. Semoga terus menjadi guru kebanggaan siswa-siswinya Pak Guru.

Sekali lagi, nama mereka relawan. Anggun, menawan, sangat berkawanAku juga ingin jadi relawanMau dan mampu merelakanMeski terkadang lelah terus berdatanganNamun tidak sedikitpun melunturkan keinginan

in frame : (dari kiri bawah)
Decky Widiatmoko
Claudia Syifa
Tina Martiawati
Istiqaroh Ambar Oktavitriani
Dwi Prasetiyo
Ardhi Aprianto
Nony Dias Frimana
Chairuna Hamida
Azizah Budi Rahayu
Amaretha Wahyu Saputra

story by: Nony, fasilitator SD N 3 Majegan, Tulung, Klaten

sumber:
http://nondiass.blogspot.com/2018/02/bicara-tentang-relawan.html

Septea Andre, Relawan Pengajar SD N Kiringan, Tulung, Kelas Inspirasi Klaten 3

Kelas Inspirasi Pertamaku

Posted Leave a commentPosted in Cerita Relawan

Kelas Inspirasi atau yang dikenal juga dengan KI merupakan sebuah aktifitas mengajar yang dilakukan oleh para profesional dalam melakukan sumbang sih terhadap pengetahuan, pengalaman dan skill mereka kepada para siswa yang menjadi tempat untuk Hari Inspirasi.

Kelas Inspirasi Klaten 3 menjadi KI pertama yang saya ikuti, kira-kira 1 tahun lalu tepatnya bulan februari 2017 saya hadir di kelas inspirasi klaten (KIK) sebagai seorang relawan pengajar. Bermodal tekad dan keyakinan saya memberanikan diri untuk bertatap muka dengan para siswa dengan berpakaian serba orange dan berbagi perlengkapan ala-ala rescuer di tempat bencana.

Yah kebanyakan dari siswa mengira saya adalah seorang petugas pemadam kebakaran karena saya juga membawa APAR (Alat Pemadam Api Ringan), helm lapangan, masker respirator, pelampung, sepatu bot, handy talky dan kaca mata pelindung. Banyak memang peralatan yang saya bawa agar para siswa tahu apa sebenarnya profesi saya.

Pada Hari Inspirasi tersebut, saya menjelaskan berbagai macam fungsi dari alat-alat tersebut dan langsung mempraktekkannya sehingga menjadi daya tarik tersendiri untuk para siswa sehingga dapat digunakan juga sebagai pembelajaran 2 arah. Selain praktik saya juga menyampaikan berbagai macam bentuk bencana alam mulai dari gunung meletus hingga tsunami. Dari yang saya sampaikan tersebut,  mayoritas dari mereka tahu mengenai hal tersebut kecuali anak kelas 1 yang kadang-kadang hanya manggut-manggut.

Terakhir, di setiap sesi saya selalu sampaikan di setiap kelas yang saya ajar bahwa setiap siswa harus mempunyai cita-cita meski tinggal di desa, jangan pernah takut untuk bercita-cita dan bermimpi dan tentunya selalu tanamkan sikap berbakti pada orang tua, guru dan orang tua karena dari mereka ilmu mereka dapat selain itu sikap disiplin, jujur, rajin, bertanggung jawab dan senantiasa bertaqwa kepada Allah adalah bekal yang utama dalam meraih cita2 dan mimpi mereka.

Secara keseluruhan saya sangat beryukur menjadi bagian dari KI Klaten 3 di SDN Kiringan 2 walaupun hingga saat ini belum sempat ikut BTS (back to school). Semoga bisa berbagi kembali di KI yang lainnya.

story By : Septea Andre. Relawan Pengajar. SD KIringan 3. KIK 3

foto bersama setelah Pelaksanaan Hari Inspirasi

PERJALANAN AWAL DARI SEBUAH KISAH

Posted Leave a commentPosted in Cerita Relawan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, memasuki tahun 2018 ini kumulai dengan menuliskan resolusi-resolusi yang ingin dilakukan di tahun 2018. Di tahun 2018 ini aku berharap bisa berbagi dan berkarya lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Dari sekian banyak resolusi yang sudah dituliskan salah satunya adalah menjadi relawan pengajar/relawan inspirator Kelas Inspirasi di kota manapun itu. Sebelumnya aku sudah pernah menjadi relawan penitia di Kelas Inspirasi Yogyakarta dari sanalah tumbuh bibit ataupun kerinduan untuk boleh bersentuhan langsung dengan anak-anaknya.

Akhir tahun 2017 aku melihat di salah satu media sosial Kelas Inspirasi Klaten sedang mengadakan open recruitment relawan pengajar, dari awal pendaftaran aku sudah ingin mendaftar tapi sampai batas waktu yang ditentukan aku lupa mengisi form, but Thank God ternyata batas waktu untuk pendaftaran di perpanjang dan tanpa menunda-nunda lagi aku langsung daftar deh. Berselang waktu sekitar 2 minggu (kalau tidak salah hehehe) aku dapat email dari Kelas Inspirasi Klaten, aku lolos menjadi salah satu relawan pengajar. Yeayyy, Aku senang!! But after that aku mesti mikir bagimana caranya dapat izin kerja karena acara kelas inspirasi ini diadakan di hari senin. Seperti slogan Kelas Inspirasi di seluruh Indonesia yaitu “cuti sehari, mengispirasi selamanya”. Oh ya, buat kamu yang belum tahu apa itu  Kelas Inspirasi, Kelas Inspirasi adalah sebuah gerakan yang tujuannya memperkenalkan berbagai macam profesi kepada anak-anak SD biasanya di daerah pedalaman ataupun di daerah pinggiran kota, berharap dengan adanya gerakan ini membuat cita-cita anak menjadi lebih kaya.Minggu tanggal empat Februari 2018 aku berangkat ke Klaten sendiri, sebenarnya melewati Klaten sering banget si misalnya ke Solo ataupun ke Surabaya nah itu pasti melewati Klaten tapi yang benar-benar tujuannya ke Klaten itu baru kali ini. And just for your information walaupun aku sudah hampir 5 tahun di Jogja aku belum pernah naik kreta pramex (Jogja-Solo) so this is my first time.


(Tiket kereta Lempuyangan – Klaten)

Sekitar jam 10.55 aku berangkat dari Stasiun Lempuyangan, tiba di stasiun Klaten jam 11.22. Setibanya disana aku langsung buka aplikasi gojek dan sedikit kaget ternyata lokasi yang aku tuju untuk briefing lumayan jauh dari stasiun sekita 14 km-an dan tidak lamakemudian seorang driver pick up orderanku. Seperti stasiun-stasiun lain ojek online tidak diperbolehkan mangkal langsung di depan stasiun jadi aku harus jalan beberapa ratus meter untuk bertemu dengan bapak drivernya. Oh ya bapak drivernya baik banget, beliau mengarahkanku ke tempatnya berada saat itu. secara aku belum pernah turun di stasiun Klaten ya, jadi kamu bisa bayangkan aku mendadak buta arah dan if you know orang Jawa itu suka sekali menggunakan mata angin (utara, selatan, barat, timur) saat memberi petujuk arah, belum lagi jika mereka menggunakan bahasa jawa (ngalor- ngidul, wetan) yang aku sama sekali belum memahami sampai sekarang patokan utara mereka itu dimana. Tapi bapak driver ini menuntunku dengan bahasa yang ku mengerti. (Driver : ”mbak nanti belok kiri, lurus terus sampai mentok, lalu belok kiri sedikit ketemu rel kereta api, lurus terus sampai pom bensin lalu belok kanan, ketemu indomaret nah saya disitu mb.”  Infromasi yang sangat jelas!) Bertemu dengan bapak gojek, berangkat menuju lokasi brifieng. Sepanjang perjalanan aku dan bapak gojek saling bertukar cerita, terkadang kami diam dalam lamunan kami masing-masing. Finally aku sampai di lokasi briefing yaitu di kec.Tulung, sesampainya acara briefing aku bertemu dengan orang yang sangat ku kenal yaitu Mbak Nuri dan Memi, mereka ini adalah sodaraku di kepanitiaan Kelas Inspirasi Yogyakarta sebelumnya. Kami tidak saling janjian, ternyata memi diminta mengisi salah satu di sesi itu.

 (Ketemu Mba Rury dan Memi, team di Kelas Inspirasi Yogyakarta 2017)

Setelah briefing, kelompokku langsung survey ke sekolah yang akan kami datangi kesokan harinya, emmmm sebenarnya aku malu megakui ini tapi harus kuakui bahwa aku terlambat datang ke acara briefing itu bahkan sesampainya disana acara sudah selesai sodara-sodara, memalukan kan please jangan dicontoh untuk hal yang ini. Kami hanya sebentar melihat sekolah itu lalu makan siang bersama. Di sinilah aku kenalan secara resmi dengan teman-teman kelompokku ada Mas Agung, Kak Andre, Alfi, Aryo dan Niken. Sebenarnya kami ada ber-14 orang dalam kelompok ini. Relawan fasilitator ada 3 orang, Relawan dokumentator ada 3 orang, relawan pengajar 8 orang, tapi beberapa dari mereka datang menyusul.Berhubung jarak Jogja-Klaten itu tidak dekat maka aku memutuskan untuk ikut nginap di rumah salah satu fasilitatorku, bukan hanya aku saja yang menginap malam itu tapi banyak teman-teman yang lain juga ikut menginap disana. kami dijamu dengan baik sekali oleh keluarga alfi. Sekali lagi dalam tulisan ini kuucapkan terimakasih untuk seluruh kelaurga Alfi, ter-untuk mamanya Alfi “pisang gorengnya enak tante J” . Terus terang malam itu adalah malam yang membuat kami menjadi lebih cair, lebih mengalir, menjadi lebih dekat, saling mengenal lebih jauh dan ada hal yang sulit kugambarkan dengan kata-kata bahwa ada satu ikatan yang aneh dimana kami belum pernah bertemu sebelumnya tapi malam itu begitu hangat seperti sahabat atau keluarga sedang reunian emmm buat kamu yang  sering menjadi relawan kamu pasti paham yang kumaksud. Ya, seperti keluarga, saudara.

(Menggunting mahkota  cita-cita bersama )

)Ada satu cerita lucu malam itu, jadi relawan videographer kami yang bernama mas Wahyudin baru tiba di lokasi menginap sekitar jam 19.30, dia naik motor dari Maggelang, coba kamu bayangkan perjalanan yang dia tempuh sekitar 3 jam, jadi pasti lelah. Saat itu dia mendapati kami sedang ngobrol-ngobrol tak lama kemudian dia juga nimbrung cerita, tiba-tiba Aryo menanyakan ke mas Wahyudin “btw udah makan malam kan mas?” mas Wahyudin menjawab dengan serius “belum…dari pagi” tanpa komando semua jadi hening tiba-tiba merasa iba atau apalah dan beberapa detik kemudian ada tawa yang pecah. Tuan rumah pun mempersilahkan dia makan, tanpa malu-malu mas Wahyudin langsung ke dapur ambil makanan. Selain ngobrol, bercanda dll nya kami juga latihanice breaking untuk di peragakan oleh anak-anak di sekolah sebagai opening (sebanarnya aku ada videonya nih tapi kehapus di HP)


PENGALAMAN MEMPERKENALKAN PROFESI KE ANAK SD

Keesokan harinya sekitar jam 05.00 pagi kami sudah mengantri mandi karena harus tiba di sekolah jam 07.00 pagi untuk mengikuti upacara. Sayang sekali setibanya disekolah hujan sehingga anak-anak tidak upacara, namun hal itu tidak menurunkan semangat kami terlebih lagi melihat anak-anak yang sudah mulai berdatangan satu persatu, ada yang jalan kaki menggunakan payung, ada yang berlari-lari sampil menaruh tas di kepala, ada yang diantar orangtuanya. Pemandangan itu indah, menyejukkan hati.

Oh ia, ada hal unik yang mereka lakukan setibanya di sekolah, yaitu bersih-bersih ada yang membuang sampah, ada yang menyapu, ada yang menghapus papan tulis dll nya. Hal ini mengingatkanku semasa aku SD dulu, kami ada piket untuk bersih-bersih kelas, aku tidak tau apakah sekolah di kota masih melakukan ritual ini.

(anak-anak melakukan bersih-bersih ruang kelas)


Sekolah yang kami kunjungi adalah SD Negri Kiringan 02 Kec.Tulung, Klaten. Jumlah siswa keseluruhan 45 orang (perempuan : 24 orang dan laki-laki 21 orang). Jumlah siswa per-kelasKelas I : 10 orangKelas II : 2 orangKelas III : 7 orangKelas IV :  6 orangKelas V : 7 orangKelas VI : 8 orangAcara Kelas Inspirasi di SDN kiringan 02 ini kami mulai dengan serangkaian kegiatan di opening yaitu kata sambutan dari ketua kelompok kami sekaligus minta izin memperkenalkan profesi kami ke anak-anak, kata sambutan dari pihak sekolah dan ice breaking, setelah itu baru kami masing-masing masuk ke kelas memperkenalkan profesi kami.

(ice breaking di opening)


Saya mendapat jatah masuk di kelas I&II di gabung, kelas III, kelas IV dan Kelas V. Jadwal pertama saya adalah di kelas I. Begitu masuk di kelas I&II (digabung) saya menjadi blank, saya bingung metode apa yang harus saya gunakan untuk memperkenalkan profesi saya kepada mereka, tiba-tiba muncul dalam pikiran saya bagaimana jika mereka tidak mengerti dengan materi yang saya bawakan. Bukannya saya tidak persiapan, 2 hari sebelum mengajar ini saya sudah menyiapkan metode yang akan saya gunakan bahkan saya sudah print beberapa gambar tentang pekerjaan saya untuk memudahkan pemahaman mereka. Tapi saat itu saya menjadi blank, ini lebih parah dari skripsi.  Sekarang coba kamu bayangkan saya ini bekerja sebagai asisten project manager di bidang design interior dan furniture yang pekerjaan sehari-harinya adalah memange/memfollow up project-project. But once again God help me, tiba-tiba ada ide untuk mendongeng, saya mengajak mereka semua untuk maju kedepan kami duduk lesehan membentuk lingkaran, lalu saya mulai bercerita tentang ada seorang kaya yang ingin membangun hotel dan dia memerlukan seseorang yang bisa mengatur segala perabotan yang akan ditaruh di hotel seperti tempat tidur, meja, kursi, lampu dll nya,. Seseorang itu adalah saya, profesi saya mengatur kebutuhan prabot yang ada di hotel. Terakhir sekali saya bercerita adalah ketika SMA kelas I waktu itu saya guru sekolah minggu di gereja, jadi coba bayangkan apa yang terjadi selanjutnya hahaha, failed menurut saya. Tapi ada kebahagiaan tersendiri ketika mereka sangat excited melihat gambar-gambar yang saya tunjukkan. Setelah selesai mendongeng saya meminta mereka menuliskan cita-cita mereka di mahkota. Diantara anak-anak itu ada yang belum bisa menulis jadi saya memmbantu dia menuliskan cita-citanya. Dan sebagai penutup saya mengajak mereka melakukan tepuk hebat.

(mencritakan profesi kepada anak kls I)
(bersama anak kls I, menuliskan cita-cita di mahkota cita-cita)
(foto bersama setelah menuliskan cita-cita)

Dari kelas I&II, saya lanjutkan ke kelas III, IV dan V untuk ke-3 kelas ini metode yang saya bagikan sama yaitu story telling by gambar. Karena jumlah murid di masing-masing kelas ini sedikit saya mengajak mereka untuk duduk membentuk lingkaran sehingga diantara kami boleh saling melihat. Sebelum aku bercerita mengenai profesiku, aku mengajak mereka untuk bernyanyi agar lebih segar dan semangat dan di closing semua kelas aku tutup dengan tepuk hebat, aku berharap dengan tepuk hebat ini mereka menyadari betapa hebatnya diri mereka. Buat kamu yang belum tau tepuk hebat itu bagaimana? Ini dia saya kasih tau liriknyaTepuk hebat (prok..prokk)Aku hebat ( prok..prokk)Kamu hebat (prok..prok)Semua hebat (prok..prok)Heee….battttt (mengakat kedua tangan keatas).Oh ya selain bercerita tentang profesiku ada nilai-nilai yang selalu kusampaikan di setiap kelas ini yaitu pentingnya kejujuran, rajin belajar, mandiri dan saling menolong.

(Bersama anak KLS III)
(bersama anak KLS V )


Ada begitu banyak emosi yang aku rasakan melihat anak-anak ini, ada rasa haru, bahagia, bangga, senang melihat mereka yang sudah punya cita-cita spesifik, tawa, lucu melihat kepolosan mereka apalagi ketika aku menayakan cita-citanya mereka. Ada yang ingin menjadi juragan buah-buahan komplit karena ayahnya juragan buah di pasar, ada yang ingin jadi pedagang sayur, pembajak sawah, TKW, Peternak, penyanyi, penjahit, pemadam kebakaran, polisi, guru dan sebagainya. Tidak salah kok jika ingin menjadi juragan buah, pedagang sayur ataupun pembajak sawah aku yakin mereka akan menjadi juragan sayur,pebajak, juragan buah yang berbeda ketika mereka bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Harapanku adalah mereka tetap memiliki semangat untuk bersekolah, semangat untuk rajin belajar dan tidak melupakan cita-cita mereka sekalipun kelak mungkin ada banyak rintangan di hadapan mereka.

(Nama : Riski)
(Nama : Ragil, Cita-cita : peternak ayam)

Sebagai closing dari tulisan ini aku ingin mengucap syukur kepada Tuhan untuk setiap kesempatan yang Tuhan berikan dimana aku bisa belajar banyak tentang kehidupan diluar sana dan hal ini membuat mataku semakin terbuka untuk mengasihi sesama lebih dan lebih lagi.  SALAM INSPIRASI

(setelah fingerpaint, simbol dari cita-cita mereka)

 For Your Information:

1. Semua foto-foto dalam tulisan ini diambil oleh relawan photographer (Aryo dan Westhi)

2. Buat kamu yang ingin lihat video lengkap dari kisah kami dapat mengunjungi    https://www.youtube.com/watch?v=nplL3bmQDuQ

Story by : Gracea Sembiring, Relawan Pengajar SD N Kiringan, Tulung, Kelas Inspirasi Klaten 3